
Banyak orang mengira advokat hanya berhadapan dengan pihak lain di ruang sidang. Padahal kunci keberhasilan perkara sangat bergantung pada kerja sama antara advokat dan klien. Hubungan yang saling memahami serta taat aturan adalah jalan terbaik agar pembelaan berjalan maksimal.
Kendala sering muncul bukan karena niat buruk, melainkan perbedaan pemahaman soal peran dan batasan. Hal ini bisa terjadi saat informasi belum lengkap, pandangan terhadap fakta berubah, atau harapan yang ternyata tidak bisa dipenuhi karena harus mengikuti jalur hukum yang berlaku.
Membela Hak Tetap Harus Lewat Jalur Sah
Ingatlah, advokat memperjuangkan hak klien tapi tidak bisa melanggar aturan demi keinginan apa pun. Prinsip ini dibuat demi keadilan luas dan mencegah kerugian bagi semua pihak.
Kepercayaan adalah pondasi utama. Kalau klien sampaikan fakta apa adanya, advokat bisa susun strategi yang tepat dan kuat. Sebaliknya, jika ada hal yang disembunyikan, hal itu justru berisiko merugikan jalannya perkara serta kepentingan klien sendiri.
Aturan Hukum yang Melindungi Kedua Pihak
Semua ketentuan ini tertuang dalam UU Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat, yang juga menjaga hak-hak klien.
Pasal 5 ayat (1) menegaskan advokat bebas dan mandiri, supaya bisa bekerja jujur tanpa tekanan demi kepentingan terbaik klien.
Pasal 16 berikan perlindungan hukum bagi advokat yang bekerja dengan itikad baik, sehingga bisa membela dengan tenang.
Pasal 19 mewajibkan jaga kerahasiaan semua informasi klien, agar klien aman berbicara jujur tanpa ragu.
Ditambah Kode Etik Advokat yang mewajibkan bersikap jujur, bertanggung jawab, dan junjung tinggi keadilan.
Pelajaran Nyata: Pemahaman Adalah Kunci
Sebuah peristiwa tahun 2025 lalu jadi pelajaran berharga. Rekan sejawat kami Samuel Teguh Santoso, S.H., M.H., M.M., advokat senior berpengalaman lebih dari 10 tahun, sudah berusaha sebaik mungkin membela kliennya. Bahkan ia berikan jaminan agar klien tidak ditahan di tahap awal.
Namun proses hukum punya jalurnya sendiri, dan akhirnya klien tetap ditahan sampai tingkat Pengadilan Tinggi. Perbedaan pandangan ini kemudian bikin kuasa ditarik, ada pengaduan ke Dewan Kehormatan Peradi, hingga sidang etik yang memberatkan kedua belah pihak. Meski akhirnya Samuel dinyatakan bebas murni sampai tingkat pusat, kejadian ini tentu tidak menyenangkan bagi siapa pun.
Hal ini mengajarkan kita, pemahaman yang sama soal batasan hukum itu sangat penting. Keadilan sejati hanya bisa dibangun dengan cara yang benar juga.
Sumber: https://mediabinnusantara.com/dr-teguh-s-utomo-s-psi-s-h-m-h-m-m-kunci-sukses-advokat-dan-klien-ada-di-saling-percaya-dan-aturan/
